Perjalanan Karier Alumni PAI FITK UINSU: Guru dan Operator Desa

Penelitian kecil ini dilakukan untuk mata kuliah Profesi Keguruan. Tujuannya adalah untuk melihat bagaimana alumni PAI FITK UIN Sumatera Utara menjalani karier setelah lulus. Dua alumni yang diwawancarai memiliki pekerjaan yang berbeda: satu bekerja sebagai guru, dan satu lagi bekerja sebagai operator desa. Dari sini terlihat bahwa lulusan PAI bisa bekerja di berbagai bidang. 

1. Siswi Tri Amalia: Seorang Guru di SMPIT Al-Maidani

Alumni pertama, Siswi Tri Amalia, S.Pd, sejak kecil telah menunjukkan prestasi akademik yang sangat baik, bersekolah lebih cepat dari anak seusianya, dan selalu meraih peringkat pertama selama SD. Perjalanannya dari RA hingga MA membentuknya menjadi pribadi yang tekun, hingga akhirnya memutuskan memilih jurusan PAI di UIN karena dorongan keluarga dan keinginannya memperdalam ilmu agama. Ia lulus tepat waktu pada tahun 2023 dan langsung bekerja sebagai guru Al-Qur’an Hadis di SMPIT Al-Maidani. Dalam profesinya sebagai guru, ia merasa nyaman, tidak ingin berpindah pekerjaan, dan menganggap bahwa mengajar adalah bentuk pengabdian, bukan sekadar pekerjaan. Mata kuliah seperti Administrasi Pendidikan, Al-Qur’an Hadis, dan Telaah Kurikulum sangat membantunya, terutama dalam penyusunan administrasi pembelajaran. Ia menilai UIN semakin berkembang dari segi fasilitas dan manajemen prestasi mahasiswa, meskipun berharap peningkatan dukungan yang lebih nyata. Keseluruhan kisahnya menunjukkan bahwa profesi guru tidak hanya menuntut kompetensi pedagogik, tetapi juga kesabaran, empati, dan komitmen moral sebagaimana ditekankan dalam mata kuliah Profesi Keguruan.

2. Siti Purnama: Seorang Operator di Desa Bengabing

Alumni kedua, Siti Purnama, S.Pd, memiliki perjalanan karier yang lebih dinamis. Meski sejak MTs dan MA sudah menunjukkan minat terhadap ilmu agama dan memilih PAI sebagai jurusan kuliah, ia tidak menetap dalam profesi mengajar. Setelah lulus tahun 2021, ia sempat bekerja sebagai guru di SDN 105375, namun kemudian memutuskan untuk mencari pengalaman lain dan akhirnya beralih menjadi operator desa di Bengabing. Dalam pekerjaannya, ia menggunakan kemampuan administrasi, ketelitian, dan komunikasi yang diperolehnya ketika kuliah, terutama dari mata kuliah Administrasi Pendidikan, Literasi Humanis, dan Pengantar Ilmu Komputer. Ia menilai bahwa nilai-nilai Profesi Keguruan seperti etika kerja, disiplin, komunikasi, dan tanggung jawab tetap relevan dan sangat membantunya dalam pelayanan masyarakat di kantor desa. Menurutnya, lulusan PAI memiliki wawasan etika, kecakapan interpersonal, dan karakter kerja yang baik sehingga tetap kompetitif meskipun bekerja di luar bidang mengajar. Pengalaman bekerja di dua sektor yang berbeda menjadikannya sosok yang fleksibel, matang, dan mampu beradaptasi dengan tuntutan pekerjaan apa pun. Dua kisah ini secara keseluruhan menunjukkan bahwa lulusan PAI memiliki peluang luas, baik di dunia pendidikan maupun di sektor nonformal, dengan bekal kompetensi, nilai, dan karakter profesional yang sejalan dengan konsep guru profesional dalam mata kuliah Profesi Keguruan.

3. Analisis antara kedua alumni

a)     Ibu Siswi bekerja sesuai jurusan PAI, sedangkan ibu Siti bekerja di bidang administrasi desa.

b)  Guru menghadapi karakter siswa yang beragam, sedangkan operator desa menghadapi kebutuhan masyarakat yang bermacam-macam.

c)   Keduanya sama-sama menggunakan ilmu dari perkuliahan, terutama Administrasi Pendidikan dan keterampilan komunikasi.

d)    Lulusan PAI bisa bekerja di sekolah maupun di kantor desa, tergantung minat dan kemampuan.

4. Hikmah yang dapat diambil dari perjalanan kedua alumni:

1.  Ilmu yang dipelajari akan selalu bermanfaat, meskipun tidak selalu diterapkan dalam bidang pekerjaan yang sama. Nilai, etika, dan karakter sering kali lebih berpengaruh daripada sekadar teori.

2.  Profesi apa pun dapat menjadi ladang pengabdian, baik sebagai guru maupun sebagai pelayan masyarakat. Yang terpenting adalah keikhlasan, tanggung jawab, dan komitmen untuk memberi manfaat.

3.   Ketekunan sejak dini membentuk karakter profesional di masa depan, sebagaimana terlihat dalam perjalanan Siswi Tri Amalia.

4.     Fleksibilitas adalah kunci sukses di dunia kerja, seperti ditunjukkan oleh Siti Purnama yang mampu beradaptasi dari dunia pendidikan ke administrasi desa tanpa kehilangan nilai-nilai etis yang dibangun selama kuliah.

5.     Mata kuliah Profesi Keguruan memiliki nilai universal, tidak hanya berguna bagi calon guru, tetapi juga dalam berbagai bidang pekerjaan yang membutuhkan etika kerja, komunikasi, dan pelayanan masyarakat.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hadits tentang pentingnya pendidikan dan metode Rasulullah dalam mendidik umat

Runtuhnya Impian Pelajar di Gaza