Hadits tentang pentingnya pendidikan dan metode Rasulullah dalam mendidik umat
- Hadits tentang pentingnya pendidikan bagi manusia:
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَوَأَبُو عَامِرٍ الأَشْعَرِيُّ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ - وَاللَّفْظُ لِأَبِي عَامِرٍ - قَالُوا : حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ بُرَيْدٍ، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِي مُوسَى عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: ((إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِي اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ غَيْثِ أَصَابَ أَرْضًا، فَكَانَتْ مِنْهَا طَائِفَةٌ طَيِّبَةٌ، قَبَلَتِ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتِ الْكَلاَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ ، وَكَانَ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ، فَنَفَعَ اللهُ بِهَا النَّاسَ، فَشَربُوا مِنْهَا وَسَقَوْا وَرَعَوْا، وَأَصَابَ طَائِفَةً مِنْهَا أُخْرَى، إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لَا تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلاً، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللهِ، وَنَفَعَهُ الله بِمَا بَعَثَنِيَ اللهُ بِهِ، فَعَلِمَ وَعَلَّمَ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا، وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ)).
Artinya: Abu Bakar bin Abu Syaibah, Abu Amir al-Asy'ari, dan Muhammad bin al-Ala menyampaikan kepada kami-lafaz milik Abu Amir-dari Abu Usamah, dari Buraid, dari Abu Burdah, dari Abu Musa bahwa Nabi bersabda, "Sesungguhnya apa yang Allah Azza wa Jalla anugerahkan kepadaku saat Dia mengutusku berupa hidayah dan ilmu bagaikan hujan yang jatuh ke bumi. Di antaranya turun ke tanah yang subur dan dapat menyerap air, sehingga tumbuhlah padang rumput yang subur. Ada pula yang turun ke tanah yang keras dan dapat menahan air. Allah menjadikannya bermanfaat bagi manusia, mereka bisa meminumnya, mengairi tanaman, dan memberi minum ternak dengannya. Ada pula yang turun ke tanah tandus, tidak menampung air dan tidak pula menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Seperti itulah perumpamaan orang yang mempelajari agama Allah dan mengambil manfaat darinya, belajar dan mengajarkan, serta perumpamaan orang yang tidak mau tahu dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku bawa."
Hadits ini dikutib dari Kitab Sahih Muslim pada halaman 421 dan Bab Penjelasan tentang Perumpamaan Hidayah dan Ilmu yang di bawa Nabi Saw.
Hadits ini mengajarkan bahwa pentingnya ilmu(pendidikan) dan mengajarkannya. Jika seorang manusia memiliki ilmu maka dia di umpakan sebagai tanah. Dan tanah disini memiliki arti 3 bagian yaitu:
1) Tanah yang bermanfaat dengan adanya hujan. Tanah tersebut menjadi hidup setelah sebelumnya mati, lalu dia pun menumbuhkan tanaman. Akhirnya, manusia pun dapat memanfaatkannya, begitu pula hewan ternak, dan tanaman lainnya dapat tumbuh di tanah tersebut. Begitu pula manusia. Dia mendapatkan petunjuk dan ilmu. Dia pun menjaganya (menghafalkannya), kemudian hatinya menjadi hidup. Dia pun mengamalkan dan mengajarkan ilmu yang dia miliki pada orang lain. Akhirnya, ilmu tersebut bermanfaat bagi dirinya dan juga bermanfaat bagi yang lainnya.
2) Tanah yang tidak mendatangkan manfaat bagi dirinya sendiri, namun bermanfaat bagi orang lain. Tanah ini menahan air sehingga dapat dimanfaatkan oleh yang lain. Manusia dan hewan ternak dapat mengambil manfaat darinya.Begitu pula manusia. Dia memiliki ingatan yang bagus. Akan tetapi, dia tidak memiliki pemahaman yang cerdas. Dia pun kurang dalam berijtihad dalam ketaatan dan mengamalkannya. Manusia jenis ini memiliki banyak hafalan. Ketika orang lain yang membutuhkan ilmu, maka dia datang menghampiri manusia jenis ini, maka dia pun mengambil ilmu dari manusia yang punya banyak hafalan tersebut. Orang lain mendapatkan manfaat darinya,sehingga dia tetap dapat memberi manfaat pada yang lainnya.
3) Tanah tandus yang tanaman tidak dapat tumbuh di atasnya. Tanah jenis ini tidak dapat menyerap air dan tidak pula menampungnya untuk dimanfaatkan orang lain. Begitu pula manusia. Manusia jenis ini tidak memiliki banyak hafalan, juga tidak memiliki pemahaman yang bagus. Apabila dia mendengar, ilmu tersebut tidak bermanfaat baginya. Dia juga tidak bisa menghafal ilmu tersebut agar bermanfaat bagi orang lain.
Jadi, pentingnya pendidikan sama halnya dengan perumpamaan diatas jika manusia memiliki ilmu dan ilmu tersebut bermanfaat bagi yang lain maka sudah pasti ilmunya akan sampai kepada orang yang membutuhkannya. Sedangkan jika manusia yang tidak memiliki manfaat pada orang lain maka bisa jadi ia telah gagal dalam menjalankan ilmu yang ia punya karna ada sebuah pepatah arab mengatakan sebaik baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain.
- Hadits Rasulullah dalam mendidik umat
Hadits tentang metode Rasulullah dalam mendidik umatnya:
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ : حَدَّثَنَا أَبُو بُرْدَةَ بْنُ عَبْدِ اللهِ قَالَ : سَمِعْتُ أَبَا بُرْدَةَ بْنَ أَبِي مُوسَى عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: ((مَثَلُ لْجَلِسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ لْحَمَّادِ، لَا يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ ريحْهُ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَيْتَكَ أَوْ ثَوْبَكَ، أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا بَيْنَكَ أَوْ تَجِدُ خَينَةٌ)).
Artinya: Musa bin Ismail menyampaikan kepada kami dari Abdul Wahid, : dari Abu Burdah bin Abdullah yang berkata, aku mendengar dari Abu Burdah bin Abu Musa, dari ayahnya bahwa Rasulullah bersabda, "Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Jika engkau berteman dengan penjual minyak wangi, engkau bisa membeli minyak wangi darinya; atau setidaknya engkau akan mencium bau wanginya. Sementara jika engkau berteman dengan pandai besi, mungkin saja dia akan membakar rumahmu, atau pakaianmu; atau setidaknya engkau akan mencium bau tidak sedap darinya."
Hadits ini dikutib dari Kitab Shahih Bukhori 1 pada Bab Penjual Minyak Wangi dan Kesturi.
Dalam hadits ini Rasulullah menggunakan metode perumpamaan dalam mendidik umat yaitu dengan menjelaskan bahwa perumpamaan antara teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti perumpamaan antara pemilik minyak wangi dan tungku pandai besi.
1. Teman yang baik: Disamakan dengan penjual minyak wangi. Berteman dengan orang baik akan membawa pengaruh positif dalam hidup kita, contohnya kita bisa belajar banyak hal baik dari mereka, seperti akhlak mulia, ilmu pengetahuan, dan pengalaman hidup.
2. Teman yang buruk: Disamakan dengan tukang besi. Berteman dengan orang buruk akan membawa pengaruh negatif dalam hidup kita, contohnya kita bisa terpengaruh untuk melakukan hal-hal yang buruk, seperti berbohong, mencuri, atau berbuat maksiat.
Jadi, dalam hadits ini Rasulullah mengajarkan betapa pentingnya kita untuk sangat berhati-hati dalam memilih teman. Teman yang baik akan menjadi berkah bagi hidup kita, sedangkan teman yang buruk akan membawa mudarat. Oleh karena itu, marilah kita selalu berusaha untuk bergaul dengan orang-orang yang saleh dan berakhlak mulia.
- Contoh teladan Rasulullah dalam mendidik umat
2 contoh teladan Rasulullah sebagai seorang guru ialah:
1. Mengajar dengan Kasih Sayang dan Kesabaran
Salah satu ciri khas Rasulullah SAW dalam mengajar adalah beliau selalu menyampaikan ilmu dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Beliau tidak pernah marah atau membentak para sahabatnya ketika mengajarkan sesuatu. Beliau selalu sabar dalam menjelaskan, mengulang, dan memberikan contoh-contoh yang mudah dipahami.
Dala sebuah Hadist: "Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan menyukai kelembutan. Dan atas kelembutan itu Allah memberikan apa yang tidak diberikan-Nya dengan kekerasan." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW sangat menekankan pentingnya sikap lembut dan penuh kasih sayang dalam mendidik. Dengan sikap seperti ini, para sahabat merasa nyaman dan senang untuk belajar dari beliau.
2. Menerapkan Ilmu yang Diajarkan
Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan ilmu secara teori, tetapi juga mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Beliau menjadi contoh nyata dari apa yang beliau ajarkan. Hal ini membuat para sahabat semakin yakin dan termotivasi untuk mengikuti ajaran beliau.
Contoh: Ketika Rasulullah SAW mengajarkan tentang pentingnya kejujuran, beliau selalu bersikap jujur dalam segala hal. Begitu pula ketika beliau mengajarkan tentang pentingnya shalat, beliau selalu menunaikan shalat dengan khusyuk dan tepat waktu.
Dengan melihat langsung bagaimana Rasulullah SAW menerapkan ilmu yang beliau ajarkan, para guru/pendidik semakin termotivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan dapat mengajarkan kepada peserta didik nilai-nilai Islam dan juga menumbuhkan akhlak mulia.
Komentar
Posting Komentar